• ,
  • - +
Ombudsman Ingatkan Tito Awasi Studi Kepala Daerah ke Singapura
Kliping Berita • Selasa, 07/01/2020 •
 
Anggota Ombudsman RI Ahmad Suadi Foto: Wahyuni Sahara/kumparan

Mendagri Tito Karnavian meminta agar kepala daerah dengan kategori tertentu melaksanakan studi banding ke Singapura, agar dapat belajar dari negara maju. Menanggapi hal ini, Ombudsman meminta Tito untuk mengawasi program itu.

Menurut anggota Ombudsman, Ahmad Suadi, program studi banding kepala daerah ini berpotensi terjadi penyimpangan. Namun, apabila dilakukan pengawasan secara benar maka potensi itu bisa dihindari.

"Ini bisa dikontrol (diawasi) saya kira. Maksud saya begini jangan ditabrakkan studi banding dengan penyimpangan. Ini suatu hal yang harus ada kontrol dari DPRD,civil society, dari atasan ya pemerintah pusat itu harus selalu melihat itu," kata Ahmad saat dihubungikumparan, Senin (6/1) malam.

Ahmad menjelaskan, proses pengawasan studi banding kepala daerah ke Singapura maupun ke luar negeri bisa dilakukan mulai dari perencanaan hingga implementasinya.

"Sebenarnya bisa dicek itu antara perencanaan dengan anggaran di DPRD dan turunannya dalam implementasi itu semuanya bisa dicek," jelasnya.

Apabila terjadi dugaan penyimpangan dari studi banding kepala daerah, Ahmad menyebut BPK bisa turun tangan untuk memeriksanya.

"Kalau ada penyimpangan itu misalnya Pemeriksa Keuangan (BPK) itu bisa melakukannya juga. Memang ada potensi tapi tidak selalu," terangnya.

Menurut Ahmad, studi banding kepala daerah ke Singapura bertujuan baik, demi pembangunan daerah. Terlebih Singapura sebagai negara maju memiliki tata kelola sosial dan pemerintahan yang baik

"Memang Singapura memiliki prinsip-prinsip yang penting. Setahu saya, Singapura itu bagus soal multiculturalnya, bagaimana sejak lama mengatur agar tidak ter-segregasi (pemisahan) antara Chinese yang mayoritas dengan Melayu yang minoritas," ungkap Ahmad.

"Kemudian, standar minimal pelayanan publik. Setiap keluarga harus punya rumah, namun juga pemerintah di sana wajib memberikan penghasilan kepada satu keluarga untuk mencicil rumah. Jadi sebenarnya studi banding itu baik-baik saja," imbuhnya.

Meski demikian, Ahmad menganggap tak semua daerah di Indonesia cocok belajar dari Singapura, karena setiap daerah di Indonesia memiliki karakter yang berbeda-beda. Menurutnya, banyak negara maju lain yang bisa dijadikan contoh.

"Studi banding juga harus mengukur keperluannya. Mana daerah-daerah itu yang sesuai studi banding di Singapura. Memilih negara mana yang relevan sebenarnya,"

"Tapi Singapura itu negara sangat kecil, kota malah. Tidak hanya Singapura yang bagus itu banyak, ya jangan hanya Singapura yang jadi contoh," pungkasnya.





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...